"Selamat Datang"

"Selamat datang di blog Penyejuk jiwa

PERSIS

PERSIS

Rabu, 03 Agustus 2011

Cerita Pendek mengharukan


cerita pendek 1:
OCEHAN SI KECIL

oleh: Ama Dedi

"Ibu pulaaang...," Zia berlari dan menabrak kedua kakiku, minta dipangku.

"Belum tidur, Jagoan?" Ku peluk dan kuciumi berkali-kali. Bajunya kotor, wajahnya kusam menandakan bahwa neneknya belum sempat memandikannya.

"Ibu, Zia tadi jagoan...,"

Mulai lagi seperti biasa. Setiap pulang kerja, anakku beruntun menceritakan pengalamannya tadi dengan gerakan tangan, mata dan ekspresi kekanak-kanakannya.

"...tadi Zia menangkap kodok. Kodoknya loncat ke...."

"Buka dulu bajunya, Zia harus mandi sebelum tidur. Zia sudah makan?"

"Zia mengejal kodok itu ke kolam.., jebbuuull..,Zia......."

"Gosok gigi dulu! Buka mulutnya..Haahh...

Ceritanya lanjutkan nanti saja, ya! Duh ini kenapa kakinya merah-merah begini, Zia?"

"...tapi Zia nggak nangis, Zia bangun lagi, tapi kodoknya..."

"Pakai dulu bajunya..!"

"...Zia jagoan, bu! Zia pukul pohon..."

"Aduh, jangan pukul ibu dong! Pinjam tangannya....nah..!

"....kenapa kodok itu bajunya jelek, bu?"t

"Zia tunggu di sini ya! ibu juga belum mandi...!"

"...Zia jagoan, bu! Zia..."

"Iya, iya..Zia jagoan, tapi tunggu dulu disini....

Eeeh jangan pegang baju ibu...Dengar! dengar!!! Tutup dulu mulutnya, ibu mandi dulu sebentar. Zia tiduran di sana....!

Susah juga menghentikan ocehan anakku itu.

Sebelum aku berpisa dengan suamiku, ialah yang menyediakan kedua telinganya untuk menampung semua ocehan Zia sampai merasa capek dan tertidur. Sebalnya, mantan suamiku jugalah yang menanamkan pada Zia agar ia menjadi seorang jagoan. Tak pernah ia membiarkan aku memangkunya, kalau Zia ter jatuh. Tak ia mengizinkan aku memenuhi permintaannya, sebelum dengan sendirinya Zia menghentikan tangisnya.

Memang sempat menjadi rebutan saat kami memutuskan untuk bercerai. Tapi aku berhasil meyakinkan semuanya bahwa aku bisa mejadi seorang ibu yang baik dan bekerja mencari nafkah keluarga. Terbukti kini kami lebih sejahtera dibanding ketika masih hidup bersama.

Mantan suamiku itu hanya seorang guru ngaji dan imam mesjid yang tidak mengijinkan aku keluar mencari penghasilan tambahan.

Hampir tiba saatnya aku berteriak di muka suamiku serta kaum lelaki pada umumnya. Bahwa kami kaum perempuan tidak layak dikekang di ranjang. Tidak layak dikurung di dapur, dan disekap di rumah.

Kami bisa mencari nafkah sendiri, kami bisa mandiri, kami bukan mahluk lemah, bahkan bisa lebih kuat dari kaum lelaki.

Jam 8 malam aku baru sampai di rumah.

"Bu , tadi Zia main sendilian di kebun....,"

Ibu juga punya kabar gembira untukmu nak. Ibu besok akan dilantik menjadi kepala cabang di perusahaan tempat ibu bekerja.

"...Zia berkelahi dengan cacing..."

Ibu juga jagoan, nak. Banyak sekali para senior yang mengincar jabatan itu, tapi ibu yang ber hasil. ..Ibu berhasil, nak.

"...Zia pukul cacing itu dengan...,"

"Aduh.., sakit dong, zia..! jangan memukul ibu!"

"...gak mati-mati., tapi Zia tidak..."

"Awas bedaknya kemakan..! Zia diam dulu....-pinjam tangannya-.. nnaahh...Sekarang celana tidurnya dipakai.."

"...Zia tidak mau ngejal cacing itu..."

"Zia sambil bobo cerita cacingnya..." Ibu juga harus menyiapkan tenaga dan pikiran untuk acara pelantikan besok. Kira-kira apa yang akan di sampaikan dalam sambutan besok? Sebaiknya aku...

"...Bu, mengapa cacing itu tidak ada tangan dan kakinya?" tanyanya sambil menepuk-nepuk pipiku. Mungkin karena aku kelihatan kabur dan melamun.

"Zia sekarang bobo dulu ya! Ceritanya dilanjutkan besok..."

"...cacing itu mencubit tangan Zia, tapi zia jagoan. Zia tidak nangis..."

Yah! Bagaimana aku bisa konsentrasi untuk acara besok? Acara besok itu penting. Sangat sangat penting.

Hari esok itu merupakan hari kebangkitan seorang istri melawan kesewenang-wenanngan. Hari esok itu merupakan hari perlawanan seorang istri terhadap suami yang kolot dan otoriter. Hari esok itu merupakan hari kemenangan seorang istri melawan kediktatoran dan keterpurukan. Hari esok itu...

" ...Bu, cacing itu walnanya..."

"Sudaah..Sudaah! Diaaam!" teriakku setengah terperanjat.

Dengan terkejut, anakku menghentikan paksa ocehannya. Mulutnya masih terbuka, matanya melotot tak berkedip...terlihat agak basah.

Ia membalikan badan dan merangkul bantal guling. Wajahnya dibenamkan sedalam-dalamnya ke bantal guling.

"Kalau ibu suruh bobo, ya bobo! Jangan ngoceh terus....Ibu capek, Zia, Ibu Pusing. Zia harus bantu ibu agar ibu tenang. Zia harus bersabar, sebentar lagi kita menang, Zia! kita akan jadi jagoan!"

Tersentak saat ku bangun. Cahaya matahari telah masuk menembus kain gordyn di kamarku. Aku bangkit meraih handuk menuju kamar mandi. Ini hari yang amat penting.

Selintas terlihat mata anakku masih terpejam dengan tubuh tengkurap, mengarahkan wajahnya ke bantal guling. Sedang mataku sibuk menjelajahi wajah dan pakaianku di depan cermin.

Aku harus tampil bersahaja. Duh, mataku terlihat merah, wajahku masih terlihat kusut, walau bedak dan lipstik telah menambalnya. Ini tidak boleh terjadi. Aku harus tampil berwibawa. Aku seorang pimpinan yang luwes berkharisma. Tapi waktuku tinggal sedikit, cermin ini tidak boleh banyak menyita waktuku.

Dengan tas di tangan aku menghampiri anakku. Ternyata sudah bangun terlentang membuka matanya.

Kuhampiri dia dengan memasang senyum alakadarnya. Kucium i kedua pipinya tuk berpamitan pada si jagoan.

"Zia, ibu berangkat dulu ya! Zia nanti main.........Panas sekali badan mu,nak !!??" Saking terkejut aku membiarkan tasku jatuh ke lantai untuk menggendong anakku. Matanya merah dan sayu. Bibirnya tamtak kehitam-hitaman. Ditangannya terlihat ada memar berwarna biru.

"Kenapa engkau, anakku?"

"Bu, Zia tidak jagoan lagi.....," suaranya lirih perlahan.

Berlari mengelilingi kamar mencari-cari sesuatu. Secepat mungkin aku harus cari pertolongan.

Benda yang kucaripun tiba-tiba berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Sambil tetap memangku anakku aku mejawab telpon,

"ya hallo..!!" Ternyata panggilan dari tempat kerjaku, agar secepatnya aku datang ke sana.

Serta merta hape itu kubanting ke kursi. Akhirnya jatuh ke lantai.

"Bu, maafin Zia...?"

"Bertahanlah anaku, kita ke rumah sakit sekarang..!!"

Berlari dengan beralas sandal jepit, aku sampai di pinggir jalan, menghentikan kendaraan apa saja yang mau berhenti.

" Bu, Zia tidak jagoan lagi..!!

"Tidak, nak! Engkau masih jagoan.....Zia harus bertahan jadi jagoan ibu...."

Kakinya dingin dan beku. Memar di tangannya semakin jelas terlihat. Sedang matanya sudah mulai tertutup.

"Zia sakit di cubit cacing..."

Sesampainya di rumah sakit aku berlari menuju pintu UGD. Langsung berteriak-teriak memberi istruksi pada suster dan dokter jaga.

"Seharusnya ibu langsung memberikan pertolongan pertama sesaat setelah anak ini digigit ular," kata dokter jaga dengan nada keras. "Sekarang bisanya sudah menjalar kemana-mana.."

"Tidak, dokter! anakku jagoan...Zia jagoan..! Bertahanlah anakku....Zia tetap jagoan Ibu .." Aku berteriak karena sedikit sekali keyakinan bahwa Zia masih bisa mendengar.

"Ibu macam apa aku ini....Ibu kalah, Nak, ibu tidak jagoan. Ibu pecundang..."

Langit-langit rumah sakit seolah runtuh menimpa ubun-ubunku. Beberapa tangan kuat memegangi tubuhku yang berontak menjerit-jerit histeris.

"Ibu macan apa aku ini...Kau boleh tidak memaafkan Ibu, Nak. Kau tetap jagoan Ibu."

Kakiku tak kuat lagi menyangga tubuhku. Di sisa penglihatanku terlihat anakku didorong menuju ruang perawatan. Di sisa kesadaranku, aku berikrar untuk tidak memaafkan kesalahanku pada anakku. Jiwaku berontak, seolah terlepas dari tubuhku yang sudah tak berdaya, mengejar anakku untuk membisikkan sesuatu,

" Maafkan ibu, Zia! Ibu kalah, ibu pecundang. Engkau pemenangnya. Engkau tetap jagoanku."

" Katakan sesuatu, nak. katakan semuanya.!! Ibu siap mendengar semua ocehanmu........maafkan ibu, nak...!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar